August 16, 2008

Bendera itu Tidak Berkibar di Sini

Kelopak mata Topo belum sepenuhnya terbuka, kelopak matanya masih separuh terbuka. Ia mengucek matanya yang lengket akibat belek dengan punggung tangannya, tahi mata yang mengeras itu kemudian rontok seperti upil yang dikorek oleh jemari. Kini Topo tidak lagi merem melek, kedua kelopak matanya sudah benar-benar terbuka. Sempurna.

            Ia lalu menguap melenguh menuntaskan sisa kantuk yang masih menggantung, mulutnya mengeluarkan bunyi dan aroma yang tidak sedap, untuk didengar apalagi diendus. Topo bangkit dari ranjangnya meninggalkan suara deritan yang membuat ngilu pendengaran. Rupanya ranjang besi Topo perlu juga dilumeri gemuk atau oli, tapi ia tidak peduli. Ia masih bisa tidur nyenyak dan tidur lebih lama di ranjang berderit itu. Begitulah Topo, untuknya tidak penting tempat tidur yang bagus, yang penting kualitas tidurnya. Falsafah tidur yang cukup bermakna.

            Topo bergeliat merenggangkan pinggangnya ke kiri ke kanan, ke depan ke belakang, juga meninggalkan suara gemeretek, tanda tulang belulang Topo perlu juga dilumeri kalsium, bukan gemuk atau oli. Tapi pagi ini ia tidak butuh kalsium, apakah yang bersumber dari susu atau biji kedelai. Tidak penting baginya minum susu kalsium. Pagi ini, ia hanya ingin segelas kopi panas, pahit boleh, manis lebih mantap.

            Sedikit berjalan malas, Topo mencapai meja makan. Tetapi tidak ditemukan segelas kopi panas yang ia inginkan, hatinya agak sedikit geram. Apa saja kerja istriku pagi ini, rutuknya, menyediakan segelas kopi panas saja tidak becus!

            Namun Topo bukanlah tipe lelaki yang mudah mengeluarkan bentakan atau teriakan untuk perempuan, apalagi perempuan itu istrinya. Ia hanya ngedumel, itu pun dalam hati.

            “Istriku kemana…?” tanyanya lirih.

            Topo beranjak ke dapur, tidak ditemukan Narti istrinya di dapur. Topo kembali ke meja makan, lalu ke halaman depan rumah, Narti tidak ada juga di situ.

            “Kemana istriku pagi-pagi begini…?” gerutunya sambil menggaruk kepala.

            Topo sejenak tertegun di bawah kusen pintu rumahnya. Pandangannya tertuju ke arah tiang bendera yang berdiri doyong ke kiri dari tempatnya berdiri. Akan tetapi perhatian Topo bukanlah tertuju kepada tiang bendera yang doyong ke kiri itu.

            “Walah…! Kemana benderanya?” teriak Topo terkejut sendiri.

Topo lalu mendekati tiang bendera itu, dengan cermat diperhatikannya tanda-tanda di sekitar tiang bendera itu. Tidak ada tanda-tanda pencurian, bendera merah putih yang kemaren sore ia kibarkan di tiang bambu itu lenyap.

            “Apa mungkin tali pengikatnya lepas…?” katanya bertanya dalam hati. “Tetapi kalau tali pengikatnya lepas terbawa angin, pasti masih ada sisa tali di ujung tiang ini,” batinnya.

            Masih diliputi tanda tanya hilangnya bendera merah putih dari tiang bendera di halaman rumahnya , pandangan mata Topo mengedari halaman rumah tetangganya. Betapa sangat terkejutnya ia, semua tiang bendera di rumah tetangganya pun tanpa kibaran merah putih.

            “Gawat ini! Gawat-gawat-gawat…Keterlaluan ini, hari ini khan tanggal 17 Agustus, kenapa tetanggaku tidak mengibarkan bendera merah putih, kenapa mereka tidak mengibarkan sang merah putih. Apakah rasa nasionalisme orang-orang Indonesia jaman sekarang termasuk tetanggaku, sudah pupus, sudah mampus?!” katanya geram.

            Topo masih berpikir, kalau begitu kemaren sore hanya dirinya yang memasang bendera merah putih di tiang bendera rumahnya. Tetapi kenapa bendera merah putih yang ia kibarkan kemaren sore,  pagi ini ikut hilang?

             “Apakah ada orang yang benci kepadaku karena aku satu-satunya warga yang memasang bendera di halaman rumahku?” katanya membatin wajah berubah muram.

            Ke mana rasa nasionalisme orang-orang di lingkunganku, di mana rasa menghormati jasa-jasa para pahlawan pembela tanah air dari penjajahan? Dan apa susahnya hanya memasang setahun sekali sebuah bendera merah putih, untuk sekadar merayakan bahwa negara ini sudah merdeka bertahun-tahun lamanya! Topo benar-benar kesal atas hilangnya bendera miliknya dan tentu saja dengan perilaku tetangganya yang anasionalis.

***

           Topo bukanlah terlahir sebagai anak seorang pejuang, apalagi anak seorang pahlawan atau tentara. Topo hanya seorang lelaki berusia empat puluhan yang sewaktu masih kanak-kanak sempat mengikuti sebuah organisasi kepanduan, Pramuka namanya. Hanya dari kegiatan kepramukaan kemudian ia mengerti sedikit tentang nasionalisme dan kebanggaan sebagai warga negara suatu bangsa yang merdeka.

            Ekspresi rasa nasionalis dan wujud perayaan kemerdekaan Indonesia secara rutin, setiap tahunnya, ia lakukan dengan mengibarkan bendera merah putih di halaman rumahnya. Topo bukan juga Ketua RT atau RW apalagi Lurah di kampung ini, sehingga ia tentu tidak mempunyai kekuasaan untuk memerintahkan warga mengibarkan bendera merah putih. Sama sekali bukan.

            Gara-gara benderanya hilang dan ia tidak melihat satupun bendera yang berkibar di lingkungannya lelaki ini sampai lupa kekesalan terhadap istrinya Narti yang tidak menyediakan segelas kopi panas, dan juga ia lupa mencari tahu keberadaan Narti yang sempat ia cari-cari tadi.

            “Aku harus mencari tahu, kenapa warga di sini tidak satupun yang memasang bendera, dan kenapa juga bendera yang telah kupasang kemaren hilang dari tiangnya!”

            Topo melangkah keluar dari pekarangan rumahnya, ia bermaksud untuk menuju rumah ketua RT yang hanya berjarak beberapa rumah dari kediamannya. Sepanjang jalan menuju rumah kediaman ketua RT, ia tidak melihat satu pun warga yang berada di pekarangan atau di jalanan, ia juga sama sekali tidak melihat kemeriahan peringatan atau perayaan 17-an di jalan kecil ini. Tidak ada umbul-umbul, tidak ada bendera-bendera kecil yang biasanya diikatkan di seutas tali lalu dibentangkan di atas jalanan bersilang-silang. Suasana jalan ini terasa begitu lengang. Seperti hari biasa, tidak ada sesuatu yang istimewa.

            Sampailah Topo di sebuah rumah bercat hijau lumut dengan pagar besi tempa berwarna hitam legam. Rumah Pak Bandi, ketua RT. Ia membuka pintu pagar, lalu berdiri di depan teras rumah Pak Bandi yang asri, banyak tanaman hias di pekarangan depan rumah Pak Bandi dan terdapat sebuah sangkar burung perkutut berikut seekor burung tergantung di atas kanopi teras. Rumah Pak Bandi sama juga dengan rumah warga yang lain tanpa kibaran bendera, semakin penasaran ia untuk bertemu dengan pejabat RT ini.

            “Assalamu’alaikum…..!” teriak Topo memberi salam ke empunya rumah. Ia mengulang salamnya, karena salam pertama tidak ada jawaban dari sang empunya rumah. Topo melihat sebuah tombol bel. Sedetik kemudian ia memencet tombol bel itu. “Ding-dong…!” bunyi suara bel cukup keras.

            Seseorang membukakan pintu, seorang pemuda. Wajah pemuda ini tidak dikenal olehnya. Mungkin kerabat atau keponakan Pak Bandi yang sedang menginap di rumah ini, batin Topo. Pemuda belasan tahun itu pun memandangnya dengan tatapan heran. Pandangan yang mencurigainya, ia menatap Topo dari ujung kaki sampai kepala.

            “Ya, saya buru-buru ke sini makanya hanya memakai sandal jepit dan tidak sempat menyisir rambut,” kata Topo sedikit risih menyikapi tatapan penuh curiga pemuda itu kepadanya.

            “Maaf, Bapak ini siapa? Dan mau apa ke sini?” tanya Pemuda itu.

            “Pak Bandi, mana Pak Bandi? Saya mau bertemu Pak Bandi!” jawab Topo sekenanya.

            “Maaf, mungkin Bapak salah alamat,” kata pemuda itu singkat hendak menutup pintu rumah.

            “Eeeit, jangan ditutup dulu. Pak Bandi mana?” kali ini nada bicara Topo agak sedikit tinggi. “Saya ini warga di sini, juga teman Pak Bandi. Mana beliau?” lanjut Topo sedikit menjelaskan. Mungkin pemuda ini sudah dititipkan pesan oleh Pak Bandi apabila ada tamu yang tidak dikenal atau orang asing  agar jangan berlama-lama bercakap-cakap, bisa-bisa dihipnotis atau dirampok misalnya. Dan pemuda ini menjalankan tugasnya dengan baik.

            “Maaf Pak, Bapak salah alamat!” kata pemuda itu ketus dan menutup pintu dengan keras.

            “Kurang ajar anak muda itu!” batin Topo masih terpaku di depan pintu rumah Pak Bandi. Burung perkutut yang sedari tadi diam mulai berkicau karena kaget mendengar bunyi daun pintu yang ditutup keras.

            Topo lalu menggedor pintu rumah Pak Bandi sedikit keras. Gedoran itu rupanya menimbulkan suara yang berisik. Beberapa saat kemudian rumah-rumah lain yang berada di sekeliling rumah Pak Bandi pintunya terbuka dan diikuti oleh empunya rumah masing-masing keluar. Mereka memandang heran ke rumah Pak Bandi. Topo masih berdiri di teras rumah itu sambil mengetuk-ngetuk pintu. Ia tidak sadar bahwa tetangga yang lain merasa terusik dengan perbuatannya itu.

            Menyadari kelakuannya yang keterlaluan, ia berhenti menggedor pintu rumah Pak Bandi. Topo merasa beberapa pasang mata telah menatapnya dari kejauhan. Topo berpaling ke arah sebuah rumah yang tepat berada di depan rumah Pak Bandi, itu rumah Pak Trisno yang bekerja di PLN, tetapi bukan Pak Trisno yang ia lihat keluar dari rumah atau istri Pak Trisno atau anak-anak Pak Trisno. Topo melihat seorang perempuan muda berdiri menatapnya dari depan rumah Pak Trisno. Tatapan perempuan itu sama dengan tatapan penuh tanya dan heran pemuda yang muncul dari dalam rumah Pak bandi.

            “Siapa perempuan itu?” Topo bertanya dalam hati.

             Perempuan berusia muda itu mengangguk dan tersenyum sedikit saat membalas tatapan Topo yang masih berdiri bingung. Topo kemudian keluar dari pekarangan rumah Pak Bandi menuju rumah Pak Trisno. Perempuan itu mungkin saudara Pak Trisno, ia cukup ramah, batin Topo.

            “Dik, maaf saya mau ketemu Pak Trisno. Tolong panggilkan beliau ya!” kata Topo penuh harap. Topo ingin bertanya kepada Pak Trisno, apakah ia tahu keberadaan Pak Bandi ketua RT dan sekaligus ia ingin bertanya kenapa Pak Trisno tidak memasang bendera merah putih hari ini.

            “Bapak ini siapa dan dari mana?” tanya perempuan muda itu.

            “Bilang saja Topo!” jawabnya singkat.

            “Tapi maaf Pak Topo, saya tidak kenal Pak Trisno,” ujar perempuan itu. “Apakah Bapak warga sini?” lanjut perempuan itu bertanya lagi.

            “Keterlaluan! Saya ini warga kampung ini Dik, rumah saya tuh di ujung jalan sana, nomor dua puluh dua. Lalu anda sendiri siapa? Kenapa berada dirumah Pak Trisno?!” kesabaran Topo habis juga, dihardiknya perempuan yang berdiri di depannya.

            “Ini rumah saya, saya tidak tahu siapa Pak Trisno itu!” kata perempuan muda berwajah cantik dengan judes, ia mulai tidak menyukai gaya Topo yang galak.

            Menyadari nada bicaranya sangat tinggi, Topo lalu minta maaf. Perempuan itu kemudian mempersilahkan Topo untuk duduk di kursi teras rumah Pak Trisno. Tetangga yang lain melihat Topo dipersilahkan duduk oleh empunya rumah, mereka lalu masuk ke rumahnya masing-masing. Pekarangan dan jalanan kembali lengang.

            “Kalau boleh saya tahu, nama Adik ini siapa?” tanya Topo ramah setelah duduk.

            “Nama saya Intan Permatawati Pak,” jawab perempuan yang bernama Intan itu sambil menyalami Topo. Topo menjabat tangan Intan.

            “Wah…nggak nyangka Pak Trisno mempunyai seorang keponakan secantik Intan,” puji Topo bukan berbasa-basi.

            “Saya bukan keponakan Pak Trisno dan saya tidak kenal dengan Pak Trisno,” kata Intan. Topo kembali bingung mendengar jawaban Intan.

            “Lalu kenapa Intan berada di sini?”

            “Karena ini rumah saya Pak!”

            “Lho, ini rumah Pak Trisno! Rumah bercat hijau di depan itu, itu rumah Pak Bandi ketua RT,” kata Topo menunjuk rumah di depannya.

            “Sepertinya Bapak bukan warga di sini ya? saya tidak pernah melihat Bapak apalagi mengenal Bapak,” Intan mulai menyadari bahwa orang yang ia ajak bicara adalah orang asing yang mungkin tersesat.

            “Ya ampun! Dik Intan ini kok nggak percaya kalau saya ini warga di sini. Makanya saat ini saya ingin bertemu Pak Bandi dan juga Pak Trisno karena saya ingin menegur mereka, termasuk kamu Dik Intan!” kata Topo bersemangat dengan nada suara mantap.

            “Apa salah saya, kenapa Bapak ingin menegur saya?” tanya Intan heran.

            “Intan, coba lihat di sekelilingmu, lihat halaman rumah-rumah yang lain, termasuk rumah ini. Apakah ada sesuatu yang kurang?”

            Intan memandangi rumah-rumah yang lain, ia bahkan mengedarkan seluruh pandangan matanya dengan sangat serius. Ia perhatikan satu demi satu rumah di sekelilingnya dengan begitu detail, tidak tampak kekurangan di rumah-rumah tetangganya yang lain. Semua dalam keadaan wajar.

            “Pak Topo, tidak ada yang kurang dengan rumah-rumah tetanggaku dan semuanya wajar,” jawab Intan.

            “Oke, itu menurutmu. Tetapi kamu tidak lupa khan, hari ini hari apa?” tanya Topo meragukan rasa nasionalisme Intan.

            “Hari ini, hari Minggu. Memangnya kenapa?” jawab Intan ringan balik bertanya.

            “Saya tidak menyangka, Dik Intan sebagai seorang yang masih muda sudah hilang rasa nasionalisme dan rasa kebanggaan sebagai seorang warga negara,” ujar Topo kecewa.

            “Apa hubungannya dengan nasionalisme? Saya mencintai negara saya dan saya sangat bangga dengan bangsa ini!” sahut Intan cukup lantang. Rupanya perkataan Topo tadi cukup menyinggung dirinya.

            “Tetapi kenapa Dik Intan dan warga di sini tidak mengibarkan bendera merah putih? Hari ini khan tanggal 17 Agustus, hari kemerdekaan bangsa dan negara kita, Indonesia!” pecahlah semua rasa kesal Topo.

            “Indonesia…???” itulah kata yang keluar dari mulut Intan yang terbuka menganga, melongo dan bingung.

            “Betul sekali Dik Intan, kenapa semua warga lupa untuk sekadar memasang bendera merah putih,” kata Topo dengan nada sedih.

            Menyadari hal itu, Intan berlari masuk ke dalam rumah. Sejurus kemudian ia telah berdiri di depan Topo sambil memegang selembar kain berwarna-warni. Topo memperhatikan selembar kain yang cukup besar itu yang ada warna biru, kuning, hijau dan beberapa bulatan putih, polkadot.

            “Maaf Pak Topo, Ini bendera kami!” kata Intan sambil menyerahkan kain warna-warni itu kepada Topo. Ia menerimanya dengan tangan gemetar dan sambil memandang selembar kain yang disebut oleh Intan sebagai bendera itu, kemudian ia menangis. Menangis tersedu-sedu.

            Topo lalu berdiri dengan lunglai, kakinya bergetar meninggalkan Intan, dirasakannya ia begitu asing di tempat ini, di kampung ini dan di negara ini. Pandangan mata Topo berkunang-kunang. Samar-samar di dengarnya Intan berteriak.

            “Bapak sedang tidak berada di Indonesia…!”

            Suara Intan memantul, menggema, gaungan suara Intan memekakkan genderang telingannya. Dan memang Topo tidak pernah menemukan bendera merah putih yang hilang dan sempat berkibar di halaman rumahnya. Topo merasakan kelopak matanya terasa begitu berat oleh air mata yang terus berderai, Topo memejamkan matanya. Topo sadar pagi ini ia tidak terbangun di negaranya, tetapi di tanah kampung halamannya sendiri yang ternyata bukan Indonesia. Ia hanya ingin tidur kembali pagi ini.

            Dengan perasaan pedih dan perih, tepat jam sepuluh pagi ini tanggal 17 Agustus, Topo membayangkan dengan bangga ia mengibarkan sang merah putih di tiang bendera miring di halaman rumahnya bersama istrinya Narti. Mereka berdua menghormati kibaran merah putih itu dengan perasaan haru biru. Mungkin juga bersama berjuta-juta rakyat Indonesia yang lain, entah dimana. Mungkin. Mungkin ya, mungkin tidak.***

Jakarta, 17 Agustus 2008

                            

August 04, 2008

RUANG TUNGGU

Entah di mana,  Januari 2006.

Saya merasa tidak yakin bahwa saat ini saya berada di ruangan yang benar. Ruangan ini adalah sebuah ruang tunggu, karena terdapat beberapa kursi panjang berderet tetapi kosong. Dinding ruangan tempat duduk terasa begitu dingin, seperti terbuat dari tumpukan bongkahan batu es yang mengeluarkan uap dingin, menyeruak menghantam pori-pori. Dingin ruangan ini menembus sampai ke sum-sum tulang belakang. Saya gelisah, cemas dan mulai ketakutan karena sudah lama berada di sini tetapi tidak menemui seorangpun. Saya berusaha untuk mengingat kenapa saya berada di ruangan ini. Saya menghela nafas, melepasnya, berembun.

***

Medan,  sepanjang 1983 – Pebruari 1985

Kami adalah keluarga pertama yang menempati kompleks perumahan ini. Sebuah kompleks perumahan yang diperuntukan untuk staf sebuah Bank BUMN terbesar di Indonesia. Tentu saja kami menempati salah satu rumah di kompleks ini, karena Ayah saya adalah seorang staf di perusahaan itu.

Setelah mendarat di Bandara Polonia dengan sebuah pesawat Garuda Indonesia berbadan besar, kami langsung diantar oleh seorang perwakilan perusahaan ke kompleks perumahan ini.

“Pak, kompleks ini masih baru dan hanya terdiri dari enam unit rumah, Bapak Gunawan dan keluarga adalah penghuni pertama,” kata orang yang menjemput kami menjelaskan.

Saya melihat Ayah hanya mangut-mangut sambil memandang sekeliling kompleks dan membuka pintu rumah yang akan kami tempati itu. Ibu mengikuti Ayah dari belakang dan memberi salam, namun salamnya dibalas oleh Ayah yang berada di depan, kami tertawa berbarengan. Mungkin kami sangat gembira mendapatkan rumah dinas yang megah dengan fasilitas furnitur yang telah terisi.

Sebuah rumah besar dan bertingkat, kami menempati rumah bernomor satu. Rumah lain belum ada penghuninya. Nanti setelah kami tinggal selama kurang lebih enam bulan di sini barulah kami mempunyai tetangga, keluarga staf yang bertugas di perusahaan Ayah. Maka terisilah enam unit rumah di kompleks ini lengkap.

Rumah nomor dua di isi oleh keluarga Bapak Sobirin dari Surabaya, nomor tiga keluarga Bapak Hariadi dari Palembang, rumah nomor empat keluarga Bapak Asep dari Cianjur, rumah nomor lima keluarga Bapak Tora dari Ujung Pandang dan rumah nomor enam keluarga Bapak Purwadi dari Jakarta.

Semula tidak ada yang aneh dengan kompleks perumahan kami yang terletak di jalan Monginsidi. Kompleks perumahan ini hanya dilengkapi fasilitas olah raga berupa lapangan bulu tangkis dan lapangan voli untuk karyawan kantor di Medan, saya dan beberapa anak-anak kompleks sebaya hampir setiap hari menghabiskan waktu sore sepulang sekolah untuk bermain badminton. Atau terkadang apabila kami menginginkan sedikit permainan tantangan kami akan turun ke sungai Babura yang tepat melintas di belakang perumahan kami.

Sebenarnya untuk turun ke sungai itu kami harus sedikit berjiwa berani dan hati-hati, karena tanahnya terjal dan ditumbuhi oleh pohon bambu yang rapat. Kami kemudian bermain air dan mandi di sungai itu sampai waktu menjelang maghrib.

Seingat saya, suatu malam kami dikejutkan oleh teriakan Ibu Sobirin yang rumahnya berada tepat di depan rumah kami. Rumah kami berhadap-hadapan, ganjil genap. Kami rumah nomor satu, ganjil, keluarga Sobirin rumah nomor dua, genap dan seterusnya. Ibu Sobirin berteriak histeris sambil menggendong Bayu anak terkecilnya, saya lihat Rizal kakak Bayu gugup dan panik juga.

Pak Sobirin saat itu sedang bertugas audit di sebuah bank unit kabupaten. Ayah saya langsung mengeluarkan mobil dari garasi.

“Cepat Bu, kita bawa Bayu ke Rumah Sakit!” Ayahku tergopoh-gopoh membantu Ibu Sobirin naik ke mobil. Ibu saya ikut serta menemani.

Setelah mobil Ayah hilang di ujung kompleks, saya menemui Rizal yang masih termangu di depan pintu rumahnya. Saya menghampirinya dan bertanya.

“Zal, si Bayu kenapa?”

“Bayu tiba-tiba step kejang-kejang saat dia disuapi Ibu tadi, dari mulutnya keluar busa,” kata Rizal sendu.

“Apa mungkin dia kena demam tinggi Zal?” saya mengira-ngira, Rizal hanya menggeleng tidak tahu.

Rizal malam itu tidur di rumah saya. Ayahnya, Pak Sobirin langsung di telepon oleh Pak Tora memberitahukan tentang Bayu. Esoknya kabar duka diterima oleh seluruh penghuni kompleks. Bayu meninggal dunia, nyawanya tidak tertolong.

Saya begitu sedih, saya seperti Rizal menangis tersedu-sedu saat Bayu hendak dimakamkan. Bayu menurut saya seorang anak kecil yang sedang lucu-lucunya umurnya belum genap dua tahun. Saya cukup akrab dengan Bayu, saya suka menggodanya. Beberapa hari kemudian Rizal bercerita adiknya sakit radang otak.

Sebulan setelah kematian Bayu. Anak Pak Asep yang perempuan di tabrak oleh sepeda motor yang melaju kencang di jalan Monginsidi. Dian mengalami  gegar otak dan patah tulang. Keluarga Pak Asep sangat terpukul karena Dian mengalami koma tidak sadarkan diri hingga dua pekan. Setelah Dian siuman, anak satu-satunya keluarga Asep ini tidak pernah mengenal kedua orang tuanya dan tentunya kami, tetangganya juga teman bermainnya.

Dian kehilangan ingatan. Tiga bulan kemudian saya diberitahu Ayah, keluarga Asep dipindah tugaskan ke Kantor Pusat di Jakarta agar Dian mendapat perawatan yang lebih intensif. Rumah yang ditempati Pak Asep kini ditempati oleh beberapa karyawan bagian teknik secara bergantian.

Kejadian-kejadian aneh kemudian lebih sering kami alami. Misalnya, suatu malam saat Ayah sedang mengikuti pendidikan di Jakarta selama seminggu, tiba-tiba kami mendengar pintu rumah kami seperti ada yang membuka. Saat itu jam 02.00 dini hari, Ibu membangunkan saya dan kakak saya. Kami kemudian menuruni tangga pelan-pelan, tidak lupa saya dan kakak membekali diri dengan stik golf Ayah, Ibu memegang gagang sapu. Jangan-jangan maling sedang mengincar rumah kami.

“Braaaak!... Bruuuuk!” Tiba-tiba daun pintu rumah terhempas keras tertutup dan kemudian terbuka lagi, tetapi tidak ada siapa-siapa. Ibu menjerit tak kalah keras, membangunkan tetangga yang lain. Semua keluar rumah dengan penuh tanya dan kantuk. Mereka berkumpul di depan rumah kami.

“Tidak apa-apa,” kata Ibu setelah ketenangan menguasai dirinya. “Saya hanya lupa menutup pintu, jadi pintu terbuka oleh angin,” lanjut Ibu. Semua kembali ke rumah masing-masing. Tetapi ada sisa tanya untuk saya. Saya melihat kelebatan bayangan sebelum pintu terhempas terbuka, bayangan yang gelap merayap seperti asap pekat yang terserap oleh angin ke udara. Merayap sangat cepat dan kencang, membuat bulu kuduk berdiri dan pori-pori kulit membesar. Seketika kaki saya lemas.

Saya merasa firasat yang tidak baik sejak kejadian pintu terbuka itu. Rasanya ada sebuah energi buruk yang hendak merampas seisi rumah dengan jiwa-jiwa di dalamnya. Kemudian saya sering mengalami mimpi buruk di tengah lelapnya tidur, saya anggap itu petanda. Tetapi petanda apa saya tidak tahu. Saya tidak pernah cerita kepada ayah dan ibu, begitu juga kepada kakak dan adik saya.

***

Medan, Pebruari 1985.

Saya menonton televisi sore-sore. Kakak duduk memandang layar televisi juga, adik duduk di lantai mengerjakan PR. Hari ini tanggal 14. Tiga bulan lagi saya akan mengikuti Ebtanas, Evaluasi Belajar Tahap Akhir. Saya ingin sekali menyelesaikan SMP secepat mungkin di Medan, dan berharap bisa melanjutkan SMA di Tasikmalaya. Di kota kakek dan nenek.

Bunyi bel pintu dengan suara ding-dong mengagetkan. Ibu buru-buru hendak membuka pintu, ia agak sedikit berlari ke arah pintu. Tetapi bukan Ayah kami yang datang pulang dari kantor, dua orang berwajah tegang yang datang, mereka masih memakai seragam kantor yang sudah kusut oleh keringat. Seorang dari mereka kemudian mengabarkan sesuatu.

“Ibu, Pak Gunawan sekarang berada di rumah sakit,” katanya lirih berusaha untuk tenang menjaga nada suaranya yang bergetar.

Ibu tampak bergeming memandang kami. “Bapak masuk rumah sakit,” kata Ibu masih bersikap wajar.

Dengan mobil kantor, kedua orang berwajah tegang ini membawa kami melaju ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan pikiran saya menerawangan tentang sesuatu yang sedang mengintai. Mengintai Ayah.

Firasat saya terbukti benar, di ruang ICU Ayah terbaring dengan berbagai selang di mulut, masker oksigen di hidung, kabel-kabel berwarna-warni, hitam, biru, hijau, kuning, putih berjuntai di dadanya. Sebuah layar monitor berlatar hitam dengan garis grafik turun naik berwarna hijau. Ada sebuah selang kateter mencuat dari selangkangnya.

Kami menunggui Ayah hingga subuh. Subuh yang lembab, dingin dan sangat asing. Ibu menangis di depan Ayah yang terbaring, seorang dokter menyampaikan sesuatu setelah mematikan layar monitor, paramedis yang lain melepas kabel-kabel dan selang dari tubuh Ayah. Nyawa ayah terlepas dari raganya.

Tanggal 15 subuh Ayah saya meninggal dunia. Dunia yang saat itu menjelang terang oleh mentari pagi, kembali redup dan gelap bagi kami. Saya menangis sampai malam kembali datang.***

Bersambung.

cerita ini sudah diposting di sebuah situs penulis cerpen http://kemudian.com

July 21, 2008

Tentangku dalam 100 kata

Perkenalkan, namaku Bambang Cahyadi. Namun, apabila anda mau Bamby_dan_dagu_plus_gelang panggil aku dengan Bamby berarti anda telah sangat akrab denganku. Posturku tidak segagah namaku yang Bambang itu, aku tidak tinggi tetapi aku juga tidak mengakui kalau aku pendek. Toh, kalau aku dikatakan berperawakan kecil aku lebih bisa menerimanya.

Aku bukan penulis, tetapi sangat ingin menjadi penulis. Karena pekerjaanku saat ini tidak ada hubungannya dengan dunia tulis menulis. Terkadang aku merasa hidup di dunia khayal dan imajinasiku. Seperti mimpi yang berakhir saat aku terbangun.

Mimpi, itulah yang ingin aku bangun dalam keterjagaan. Karena dengan mimpi aku berusaha untuk hidup mendirikan imajinasi dalam cerita.***

July 09, 2008

TATTOO

Pernahkah merasa tersanjung dan merasa bersalah seperti ini? Ada seorang wanita yang mengabadikan kebaikanmu, ketulusanmu dan cinta kasihmu dengan merajah tubuhnya, tepatnya di punggung badannya yang mulus tanpa cela dan di lengannya yang halus dengan otot sintal. Merajah tubuhnya, rasanya terlalu kasar kalimat itu untukmu, lebih pas kamu membuat dua buah tato  di punggung dan di lenganmu tanpa sepengetahuanku.

Sepulang dari Lombok, setelah kamu bersusah payah untuk mendapatkan ijin cuti. Kamu sempat mengeluh boss-mu tidak akan memberikan ijin untuk rehat dari rutinitas kerja yang membosankan. Ternyata dugaanmu salah, boss-mu langsung menyetujui rencana cutimu. Mungkin dia tahu kamu sudah berada di titik jenuh, dia khawatir kamu bekerja tetapi tidak produktif. Akhirnya kamu memilih Lombok untuk membunuh kebosananmu. Sekarang kamu sudah selesaikan masa cutimu yang mengasyikan itu.

Aku menjemputmu di Bandara, sebuah terminal besar yang hiruk pikuk seperti pasar atau layaknya terminal bus sesungguhnya yang penuh dengan calo penawar jasa apa saja. Mau taksi gelap, pengangkut barang, menawarkan parfum atau menukarkan mata uang semuanya ada, komplit.

Kamu keluar mendorong troli yang dipenuhi dengan koper besar dan jinjingan lainnya. Wajahmu berseri, walaupun kulitmu terlihat agak legam kemerahan, mungkin kamu terlalu sering berjemur di pantai Senggigi. Matahari telah menyengatmu, tetapi kamu tetap cantik dengan rambut panjang tebal tergerai. Kamu menyibaknya di depanku. Seraya menciumiku, bukan di pipi melainkan di bibir, melumatkan bibirku di keramaian terminal Bandara.

“Aku kangen kamu Mas,” katamu sambil menatap mataku dan masih memelukku. Belum sempat aku membalas ucapanmu, ujung bibirmu kembali mengerat bibirku. Aku kangen juga sama kamu batinku sedikit mengulum bibirmu, masih di depan umum. Aku dengan halus melepas pagutan.

“Digigit, digigit…!” suara orang iseng kampungan terdengar di kupingku, aku panas, meliriknya dengan ujung mata. Laki-laki itu mengalihkan pandangannya ketika bola mataku bersitatap dengannya. Lelaki tukang parfum yang culun, tadi ia menawari parfum aspal mengaku asli tetapi palsu dengan harga selangit kepadaku.

“Monik, mobil aku parkir di ujung sana, troli biar aku dorong,” kataku mengambil alih pegangan troli. Aku ingin kamu melenggang. Kita berjalan menuju pelataran parkir tanganmu masih merengkuh pundakku, kamu kangen aku Monik? Kangen sekali tentunya sayang.

Di mobil, tidak henti-hentinya bibir sensualmu berbicara tentang keindahan pantai-pantai di Lombok. Ya, benar! Bali bukan satu-satunya pulau yang menawarkan keindahan eksotik pantai, pilihanmu Lombok dan sepertinya telah terbukti.

Sayangnya aku tidak bisa menemani kamu menyaksikan indahnya pantai pasir putih atau sekadar berkeliling kota Mataram yang asri, kamu sangat tahu alasannya sayang. Sayangku Monik, tiba-tiba ada sesuatu yang kamu ingin katakan tetapi lidahmu tampak keluh. Tidak seperti biasa, kamu sangat lancar berbicara tentang pantai, gunung atau aksesoris dan kosmetik. Kenapa tiba-tiba bibirmu keluh? Nanti akan aku ceritakan sesampai di rumahku. Itu saja yang terucap, selanjutnya kita menikmati kemacetan jalanan tol Jakarta. Seharusnya jalan tol ini bisa lebih bebas hambatan dari jalan raya biasa, karena untuk masuk dan melintasi fasilitas jalan bebas hambatan ini kami harus bayar, tetapi kenapa ternyata kemacetan justru terjadi di jalan yang bebas hambatan ini dan harus bayar pula! Tanya kenapa? Kata sebuah tag iklan rokok. Kira-kira begitulah penjelasannya.

Monik mempermainkan ujung rambutnya, matanya memandang jalanan dan kemudian menatapku.

“Gimana proyekmu, Lancar Mas?” tanyamu, sepertinya berbasa-basi.

“Lancar, gak ada masalah berarti, mungkin bulan depan selesai,” balasku menatapmu lekat, jujur aku sangat rindu kamu Monik.

“Bagus deh!” decaknya.

“Kamu besok udah kerja lagi khan?” tanyaku memastikan hari masukmu setelah cuti seminggu penuh ini.

“Udah sih, tapi aku gak langsung turun ke lapangan, mungkin merapikan administrasi yang terbengkalaian saja,” jawabmu bermalas-malas di pundak kiriku.

Akhirnya kemacetan terlampaui. Kami kemudian memasuki sebuah jalan kecil dan sampailah di rumahmu. Seorang pembantu perempuan berusia setengah baya dengan memakai kebaya membukakan pintuk gerbang rumahmu yang terbuat dari besi tempa hitam. Kenapa pembantumu selalu berkebaya? Apakah agar ia kelihatan seperti pembantu sesungguhnya? Seperti emban-emban yang melayani tuan putri di keraton. Itu tidak penting katamu, aku juga sependapat. Membahas masalah pembantumu yang berkebaya tidak penting. Mari berbicara sesuatu yang lebih penting, bergairah dan kerinduan yang menggebu dan membuncah.

“Mas, kopernya taruh situ aja dulu,” jari telunjukmu menunjuk sebuah pojok di ruang tamu.

“Oleh-oleh untukku mana?” sindirku mengingatkan.

“Tentu ada sayangku,” ujarmu manja menarik aku masuk ke kamarmu.

Ah, rasa rinduku terobati membaui ruangan kamarmu, merasakan ranjangmu dan menginjak karpet Persia tebal di telapak kaki. Hawa AC menyemburkan kesejukan. Sekarang aku yang melumat bibirmu tanpa permisi. Maaf, aku lebih percaya diri menciummu di dalam ruangan seperti kamar ini Monik. Kamu membalas dengan memasukan lidah dalam rongga mulutku, lidahmu kugigit. Kamu berdesis. Aku mulai tidak sabar. Dan saat itu kamu menepis tanganku lembut. Agar aku tidak tersinggung.

“Mas, kabar istrimu gimana?” tanyamu menjauhi jangkauan tanganku, membereskan kancing baju yang terbuka.

“Baik. Baik, dia baik. Kenapa?” tanyaku balik bertanya dan menghempaskan tubuh ke ranjang sembari membuang nafas.

“Rasanya sudah lama aku tidak bertemu dia,” katamu. Haruskah kamu selalu bertemu dengan dia Monik. Jangan macam-macamlah, hubungan kita ini sudah sangat macam-macam, jadi jangan menambah masalah dengan pertanyaan macam-macam. Tentu aku bicara dalam hatiku.

“Mas… Aku mau bicara tentang sesuatu yang tidak sempat terucap saat di mobil tadi,” pelan sekali kamu berbicara.

“Tentang apa itu? Bicara saja.” Terkadang akan lebih sulit berbicara langsung, alangkah senangnya hidup di jaman sekarang, bicara bisa lewat ponsel dengan cukup menulis pesan singkat atau melalui e-mail yang tidak perlu memasukannya ke kotak pos dan menunggu beberapa hari untuk mendapatkan balasan jawaban. Apabila kita sungkan untuk bicara langsung kepada seseorang, cukup mengirim sebaris sms itu sudah lebih dari cukup, tentu bukan cukup ukuran kesopanan.  Tetapi paling tidak merasa tidak enak hati tertutupi tekonolgi.

“Aku persembahan ini kepadamu….” Ucapmu membuka pembicaraan yang kamu maksud.

Perlahan Monik membuka bajunya. Pelan sekali membuka kancing bajunya satu demi satu. Aku bertanya-tanya dengan perasaan berdesir. Kemeja model hem itu belum sepenuhnya terlepas dari tubuhnya, payudara Monik dengan balutan bra berwarna hitam bling-bling sedikit membuat jantungku berdegup. Monik malah membuka dan melepaskan bra hitam bling-bling itu. Dadanya mancung kencang berisi dan padat, salah satu sebab aku jatuh cinta kepadanya dan sebab-sebab lainnya. Ah, Monik sedang mempermainkan libidoku kah? Kurasa tidak. Ada sesuatu yang serius yang akan ia diperlihatkan kepadaku.

“Tarraaaaa…..!” serumu dengan keriangan yang luar biasa.

Ia membalik badannya, membelakangiku seraya melepas utuh kemejanya. Oh! Wajahku pucat pasi, mungkin karena terlalu kaget memandangi punggung tubuhmu.

“Mas, aku membuat tato ini sebagai rasa cintaku yang sangat besar untukmu,” katanya masih membelakangiku.

Di punggung yang semula bersih dan mulus itu kini terpampang sebuah gambar, sangat indah. Lukisan di punggung tubuh Monik itu, adalah gambar sepasang orang bersayap, gambar seorang lelaki bersayap sedang rebahan dan gambar seorang perempuan bersayap juga sedang terbang di atas lelaki bersayap itu. Bukan kah itu gambar malaikat pada umunya yang dikenal oleh manusia? Mereka tidak berpakaian, mereka telanjang, tetapi tidak benar-benar telanjang masih ada sebuah daun, mungkin daun tanaman perdu, yang menutupi kemaluan sang lelaki dan selembar selendang tipis yang menutupi payudara sang wanita bersayap. Monik membuat lukisan dipermukaan kulitnya, itu tidak akan hilang. Tidak seperti kanvas yang dilukis dengan cat minyak, bisa hilang dibasuh cairan tinner.

“Ada lagi Mas!” tanda keabadian, katamu melanjutkan percakapan dibuat oleh seniman tato ternama di tepian pantai Senggigi sembari menanti matahari terbenam di ufuk sebelah barat sana.

Sebuah tato berukuran kecil di lengan kanannya, bergambar dua buah hati yang tertusuk anak panah dengan sebuah tulisan kecil Monik dan namaku. Aku tidak perlu menyebutkan namaku di sini. Monik mendedikasikan kedua buah tato itu untukku. Dedikasi yang sangat menyanjungku sekaligus melambungkan rasa bersalahku, membuatku berpikir untuk memilikimu seutuhnya dan melepaskan istriku. Pertanyaannya, pernahkah anda tersanjung seperti ini dan juga bersalah? Tentu tidak akan untuk pengkhianat cinta.***

July 04, 2008

Hadiah Untuk Ibu

“Hei…!  Apakah kamu sudah berbakti terhadap Ibumu?” tanya suara dalam mimpiku.

Aku terbangun, mengucek mataku dengan punggung tanganku. Menyingkapkan sarung yang masih membelit kakiku dan segera terduduk dipinggiran tempat tidurku, seraya berpikir mimpi apa aku tadi?

Aku lihat Ibu sedang memasak, mungkin nasi. Ayah pasti sudah ke Langgar untuk sembahyang. Masih subuh matahari belum bersinar. Aku kembali rebahan, mataku sayup kembali tertidur.

Badanku bergetar, terombang-ambing seperti berada di dalam perahu yang sedang bergelut dengan badai dan gelombang lautan.

“Rip, Surip… bangun Surip!” suara Ibu terdengar pelan, tangannya menggoyang-goyang badanku membangunkan aku.

“Masih ngantuk Bu…” jawabku masih menutup mata.

“Surip, kamu belum sholat, sholat dulu sana!”

Dengan terpaksa aku turun dari ranjang, seperti robot yang berjalan sendiri aku masuk ke kamar mandi berwudhu dan sholat. Walaupun demikian aku masih berdoa selesai sembahyang.

“Ya Allah, berikan kepada Ibuku selalu kekuatan, kesehatan dan Swot13_2 ketabahan!” pintaku kepada Tuhan. Semoga diterima. Aku merapikan sajadah dan sarung kemudian menuju dapur.

Aku terdiam melihat Ibu yang masih sibuk dengan irisan bawang dan cabai. Wajahnya terlalu tua untuk perempuan seumurnya, itu kesimpulanku kalau melihat wajah letih ibu.

“Rip, pagi ini makan nasi pakai sambal saja ya…,” ujar Ibu menatapku.

Aku sudah terbiasa makan nasi dengan sambal, masih bersyukur masih pakai nasi, dengan garam pun rasanya masih nasi.

Bukan tanpa sebab wajah Ibu selalu terlihat letih, sebab bersama Ayah mereka bahu membahu berjuang agar dapur tetap harus selalu mengepul, walaupun hanya kepulan sepanci nasi dari beras aking yang kuning dan bau apek. Belum lagi membiayai sekolahku dan adikku yang masih tertidur. Adikku belum akil baligh, oleh karenanya ibu tidak membangunkannya untuk sholat subuh.

Ayah, aku tidak terlalu akrab dengan figurnya. Setelah pulang dari Langgar sosoknya langsung menghilang membawa gerobak dan mengaduk tempat sampah orang-orang kaya di pusat kota.

“Ayah harus pergi sepagi mungkin, pesaing ayah semakin banyak, semakin pagi semakin banyak yang berharga untuk dijual,” begitu kata Ayah sewaktu berbicara dengan Ibu. Persaingan di kalangan pemulung sampah aku dengar semakin ketat.

Ayah pulang ke rumah selepas maghrib setiap hari, 24 jam 7 hari, seperti iklan delivery service restoran cepat saji, tetapi tidak persis seperti iklan itu, ayah masih pulang untuk tidur di rumah.

Akhirnya aku merasakan bahwa Ibu sangat dominan. Urusan pendidikanku Ibu yang merancang, termasuk urusan disiplin. Aku berada di bawah rejim Ibu.

Suatu hari aku terlambat pulang dari sekolah karena terlalu lama bermain di pantai, Ibu menungguku penuh amarah, dengan menggunakan tali timba kaki dan bokongku dicambuknya, ada sekitar sepuluh hitungan cambukan.

Tetapi setelahnya Ibu sangat menyesal, nasi telah menjadi bubur. Tangisnya yang pecah, aku merasa sangat bersalah.

Itu adalah pelajar disiplin dari Ibu, sejak tali timba menjadi cambuk, aku tidak pernah untuk terlalu lama bermain dengan teman-teman.

“Hei…! Apakah kamu sudah berbakti terhadap Ibumu?” tanya suara dalam mimpiku kembali.

Aku belum berbakti. Bisa apa aku? Aku masih kecil! Ya, aku seorang anak sekolah dasar baru kelas enam, tentu aku belum berbakti. Aku terbangun berkeringat dan waktu telah pagi.

Di sekolah, aku termasuk siswa yang cerdas, jangan tanya soal ranking di kelas. Aku lima besar tanpa les sana-sini. Hobiku adalah menulis, aku suka membuat tulisan berupa puisi atau cerita pendek di Majalah Dinding sekolah. Tulisanku selalu mendapat pujian dari Bapak dan Ibu guru termasuk dari Bapak Kepala Sekolah yang terhormat. Setiap hari Senin kami selalu memberi hormat gerak kepada Bapak Kepala Sekolah saat upacara bendera.

Hari ini aku dipanggil menghadap Bapak Kepala Sekolah, aku merasa sangat takut sekaligus terhormat. Takut, karena apa aku harus menghadap beliau dan terhormat aku berada di ruangannya yang mewah dibanding dengan ruang guru yang sederhana dan bersahaja. Tentu saja guru harus terus begitu bukan?

“Surip!” suaranya memanggilku berwibawa.

“Ya, Pak,” jawabku pelan.

“Kami para guru sepakat memilihmu untuk mengikuti Lomba Menulis Cerpen se-Kabupaten…,” katanya bijaksana.

“Saya Pak?” tanyaku tidak percaya.

“Betul sekali Rip, tulisan-tulisanmu di Mading adalah bukti kehandalanmu dalam menulis puisi ataupun cerita, kami sepakat kamu perwakilan SD ini,” katanya menutup pembicaraan.

Keluar dari ruangannya, perasaan bahagia menjalar ke seluruh pembuluh darahku ke seluruh persendianku, wajahku berseri-seri.

Karya cerita pendek harus diketik komputer, Pak Kepsek dengan senang hati meminjamkan seperangkat komputer sekolah yang memang hanya satu-satunya di sekolahku. Hati-hati menggunakannya, katanya ketika aku mulai mengetik karangan ceritaku.

Aku tidak ingin berlama-lama bercerita. Karya cerpenku menjadi juara, tidak tanggung-tanggung aku menyabet Juara Pertama dalam lomba tingkat Kabupaten ini. Sebuah trophy, piagam dan sebuah amplop aku terima sebagai hadiah dari Bapak Bupati.

Trophy besar dengan tinggi setengah dari badanku aku boyong ke rumah, disambut dengan suka cita oleh Ibu dan adikku. Tentu tanpa Ayah.

“Itu kertas apa Rip?” tanya Ibu menunjuk piagam penghargaan yang kupegang.

“Ini piagam Bu, ditanda tangani oleh Bapak Bupati,” ujarku sambil memperlihatkan tanda tangan Pak Bupati.

“Yang itu apalagi?”

“Amplop.”

“Amplop apa?”

“Aku nggak tahu Bu.”

“Belum kamu buka?”

“Belum.”

“Coba kamu buka!”

“Ibu saja yang buka.”

Aku serahkan amplop coklat yang sedari tadi masih kupegang ke tangan Ibu. Tangan ibu agak sedikit tremor menerimanya, bergetar, entah kenapa. Apakah karena ini sebuah amplop? Ibu membukanya dengan sangat hati-hati, seolah-olah takut isinya rusak akibat sobekan yang dibuat.

“Surip! Ya Allah, Alhamdulillah….. Ini isinya uang!” Ibu berseru gembira memelukku dan kemudian bersujud syukur.

Swot5 Setelah di hitung uang hadiah tersebut berjumlah sejuta. Wah, jumlah nominal yang sangat banyak, belum pernah keluargaku mempunyai uang sebanyak ini.

Aku sangat gembira dan tentu dengan sangat berani aku akan menjawab pertanyaan yang kerap kudengar dalam mimpiku. Aku bisa tidur dengan penuh kemenangan.***

Tebet, 29 Juni 2008.

June 29, 2008

PEMUDA PENJAGA LIFT

Catatan cerita : Menurut saya dunia roh punya kehidupannya sendiri, seperti dalam cerita ini :

PEMUDA PENJAGA LIFT

“Selamat pagi, ke lantai berapa Pak?” tanyamu kepada seorang Bapak berpakaian safari rapi dan perlente. Bapak itu kemudian memperlihatkan lima jarinya tanpa bicara, kamu rupanya sudah paham, tombol lift kamu pencet angka 5. Kamu juga selalu berpakaian rapi, rambutmu selalu tersisir dengan sedikit minyak rambut membuat rambutmu berkilau apabila tertimpa cahaya lampu lift.

Kamu selalu tersenyum ramah kepada setiap orang yang menggunakan lift ini, setiap hari, mungkin setiap shift-mu karena pasti kamu pun membutuhkan libur untuk mengatasi kebosanan menjaga lift dan bertanya ke lantai berapa kesetiap orang yang menggunakan lift di apartemen ini setiap hari.

Hari ini kamu tidak berada di dalam lift ini. Seorang wanita muda menjaganya, mungkin kamu libur. Wanita muda itu tidak seramah kamu, senyumannya seperti senyuman yang dipaksakan tidak tulus. Sepertinya ia sangat terpaksa menjalankan profesi menjaga lift dari pada tidak bekerja sama sekali.

Sudah hampir sebulan kamu tidak menjaga lift dan sebulan ini beberapa petugas pengganti silih berganti. Kamu kemana? Apakah kamu sakit? Ataukah kamu mendapatkan pekerjaan baru?

Ingin sekali aku bertanya kepada temanmu, wanita muda yang sekarang menjadi penjaga lift itu. Sudah sebulan kamu tidak bertugas, tetapi tidak aku lakukan, aku tidak mau semuanya berubah menjadi runyam dan kacau.

Pagi ini sangat sepi, aktifitas apartemen belum dimulai seperti biasa aku memasuki lift. Aku sangat senang pagi ini aku menemui kamu berada di dalam lift dan sudah bertugas kembali.

“Mau ke lantai berapa Mbak?” tanyamu dengan suara yang sangat ramah. Aku terkejut bercampur bahagia kamu sudah menjaga lift ini lagi. Sambil memandangmu aku mengacungkan kesepuluh jariku, ke lantai 10. Kamu memencet tombol angka 10.

Tiba-tiba lift berhenti mendadak di lantai 2 padahal tidak ada orang yang berhenti untuk keluar di lantai 2. Pintu lift terbuka, masuk wanita muda penjaga lift penggantimu itu, ia bersama temannya, tetapi mereka tidak menegurmu. Kamu pun diam saja tidak menegur mereka. Aku dan kamu terdiam dalam bisu, hanya teman-temanmu yang berbicara.

“Sudah sebulan aku bekerja di sini, baru kali ini aku merasakan bulu kudukku berdiri merinding seperti ini,” kata wanita muda itu kepada temannya dengan ekspresi seperti orang yang ketakutan.

“Ya, aku juga merasakan hal yang sama,” kata teman wanita muda itu sambil bergidik dan memegang lehernya sendiri.

“Apa mungkin rohnya si Markum penjaga lift yang meninggal kecelakaan motor sebulan yang lalu sedang gentayangan di sini ?” lanjut wanita muda penjaga lift itu kepada temannya sambil memencet tombol lift ke lantai dasar.

“Mungkin saja, dulu juga waktu seorang gadis muda bunuh diri dari lantai 10 di lift ini sering terjadi sesuatu yang aneh-aneh dan menyeramkan,” kata temannya.

Terus terang aku sangat terkejut. Pandanganku beralih kepadamu yang sedang berdiri manis di pintu lift sambil tersenyum, mengangguk dan mengangkat bahu. Kamu bernama Markum. Pantas kamu bisa menegurku pagi ini.***

June 23, 2008

Kumpulan Cerita 100 Kata

Cerita-cerita di bawah ini adalah cerita pendek 100 kata, kalau ingin iseng menghitung jumlah kata dalam cerita-cerita ini ditanggung pasti jumlahnya 100 kata.

PERAMAL

Aku melihat guratan tangan kiri. Sebagai peramal aku menyarankan tangan kiri alasannya jarang dipakai.

“Hmm, garis tangan ini agak membingungkan!” gumanku

“Garis percintaan, kacau balau, tidak ada seorang wanitapun yang tertarik,” kataku memperhatikan garis jodoh.

“Untuk garis keuangan, juga sangat buruk, hutang di sana sini, gali lubang tutup lubang,” desahku.

“Kesehatan, sering sakit-sakitan. Terutama sakit kepala, apabila sakit kepala telah mendera bagaikan palu godam menghantam!” cerocosku berbusa.

“Apabila kelak menikah, punya kecenderungan untuk berpoligami,” kataku mantap.

“Ada tiga garis kecil nyata di bawah kelingking, itu garis penikahan!” tandasku.

Aku mengangkat tangan kiri itu. Betapa kagetnya aku, itu tanganku sendiri!***

KETIKA BERTEMU TEMAN

Ada perasaan kurang nyaman merambat di relung hati ketika harus bertemu dengan teman-teman lama, terutama mereka yang terakhir bertemu denganku di akhir tahun 2005.

Mereka selalu memandangku prihatin, kasihan dan selalu menanyakan kondisi kesehatanku.

“Apakah kamu merasa sehat?”

“Kenapa kamu begitu kurus?”

“Kamu masih sakit?”

Pertanyaan disertai pandangan yang bermaksud mendapatkan jawaban dariku, tetapi malah menjalarkan energi negatif buat pikiranku. Dan setiap selesai bertemu mereka, aku merasa terpuruk terpukul, begitu burukkah kondisi fisikku sekarang?

Rasanya lebih baik aku mencari dan bertemu dengan teman-teman baru, yang belum pernah mengenal sosokku sebelumnya. Karena mereka mengenal diriku dengan sosok  apa adanya.

DI DALAM KERETA BAYI

Hampir setiap hari pasangan suami istri itu berada di taman kota, mereka selalu membawa kereta dorong bayi tertutup berwarna biru tua. Pagi dan sore setiap cuaca cerah mereka bermain di taman kota dengan sang bayi.

Warna biru tua kereta dorong, setua usia mereka. Sang suami sudah terbungkung bungkuk dan sang istri berambut kelabu dengan raut wajah keriput.

Mereka selalu memandang ke dalam kereta dorongan bayi itu sambil tersenyum atau sesekali membunyikan mainan berkerincing. Pasti sang bayi merasa senang dan bahagia selalu disapa setiap hari cerah.

Sebenarnya tidak ada bayi dalam kereta dorong, di dalamnya ada harapan untuk mempunyai buah hati.***

BELUM BISA BICARA

Ingin sekali saya meremasnya sambil mengulum putingnya menghisap susu yang terkandung di dalamnya.

Kulit dadanya yang putih bersih membuat saya sangat ingin berbaring di atasnya, saya membayangkan tidur nyenyak seperti di atas kasur bulu angsa yang empuk.

Saya tidak terlalu suka apabila sembulan dadanya ditutupi oleh bra berenda dengan bahan lycra, membuat saya susah untuk menjamahnya apalagi untuk meremasnya dan mempermainkan putingnya.

“Saya sangat dahaga, berikan dadamu untuk aku hisap susunya,” saya merengek meminta kepadanya.

Bra renda yang menutupi dadanya tidak segera diturunkan untuk sedikit menyembulkan putingnya agar saya segera menghisapnya.

Sekali lagi saya merengek meminta Air Susu Ibu,“Oooowweeek!”.***

KENANGAN MEI 1998

Hari  ini suasana tempatku bekerja sangat  lenggang tersiar kabar akan terjadi malapetaka besar.

Biasanya menjelang makan siang pelanggan telah mengantri untuk mendapatkan menu makannya.

Melewati waktu makan siang kami diinstruksikan untuk segera menutup restoran tanpa bantahan.

Aku bergegas meminta pelanggan yang masih makan di restoran untuk segera meninggalkan tempat.

“ Sesuatu akan terjadi,” begitu kataku sambil meminta maaf.

Restoran sudah terkunci dan lampu telah dipadamkan.

Tiba-tiba sesuatu yang mengejutkan terjadi. Inilah awal dari malapetaka.

“Praaaaaang….!!!” bunyi kaca pecah diikuti oleh derap orang-orang kalap memasuki restoran bukan untuk makan, tetapi membakar dan menjarah seisi restoran. Tanpa belas kasih. Menjarah nurani.***

ADA DUA CERMIN

Ada dua buah cermin di rumahku. Sebuah cermin berada di pojok kamar tidurku dan sebuah lagi tergantung di kamar mandi.

Cermin di dalam kamar tidurku menyatu dengan meja